Lika-Liku Pengajian Rutin Ahad Pon Muhammadiyah Cabang Kalibening Daerah Banjarnegara Wilayah Jawa Tengah Memperkuat Ukhuwah, Menggerakkan Kebaikan, dan Merawat Masjid
- Semangat Awal dan Perkembangan Jamaah
- Lika-liku Dakwah di Cabang Muhammadiyah Kalibening
Perjuangan dakwah di wilayah Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, memiliki jejak yang khas, penuh liku dan pahit getir. Sebagaimana ajaran Islam, dakwah adalah inti dari gerakan Persyarikatan Muhammadiyah, dan di Cabang Muhammadiyah Kalibening, semangat itu menyala dari sebuah inisiatif kecil yang kini tumbuh menjadi gerakan masif.
Dari Pengajian Pimpinan ke Rutin Ahad Pon
Awal mula gerakan dakwah yang konsisten ini adalah melalui Pengajian Pimpinan Pemuda Muhammadiyah. Kegiatan ini dahulu rutin dilaksanakan pada setiap hari Jumat Pon, dimulai pada pukul 13.00 WIB hingga selesai. Meskipun dilaksanakan oleh segmen pemuda, pengajian ini menjadi cikal bakal yang menancapkan pondasi semangat keilmuan dan keislaman.
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya kebutuhan jamaah yang lebih luas, kegiatan ini kemudian berevolusi. Pengajian Pimpinan tersebut berganti format menjadi Pengajian Rutin Ahad Pon. Perubahan ini merupakan langkah strategis untuk melibatkan lebih banyak lapisan masyarakat dan mengokohkan jadwal yang mudah diingat.
Pada masa awal, jamaah yang mengikuti pengajian ini mungkin hanya berjumlah beberapa orang saja. Namun, berkat konsistensi, kesungguhan, dan istigomah para pegiatnya, kini pengajian ini telah berganti menjadi sebuah pertemuan keagamaan yang luar biasa antusiasnya. Angka kehadiran jamaah saat ini mencapai 4.000 hingga 5.000 orang di setiap pertemuannya. Ini adalah bukti nyata bahwa akar dakwah Muhammadiyah telah menghunjam kuat di tengah-tengah masyarakat.
- Gerakan Dakwah dan Ekosistem Persyarikatan
Pengajian Ahad Pon: Gerakan Tabligh
Kegiatan Pengajian Rutin Ahad Pon telah menjadi gerakan dakwah tabligh yang secara konsisten dilaksanakan oleh Muhammadiyah di cabang ini. Pengajian ini tidak hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah sarana kolektif yang memiliki tiga fungsi utama, yaitu:
- Memperkuat Ukhuwah Islamiyah:Menjadi tempat berkumpul, bersilaturahmi, dan mempererat tali persaudaraan sesama muslim.
- Menggerakkan Kebaikan:Menjadi wadah edukasi untuk mendorong jamaah berbuat amal saleh dan memiliki kesadaran sosial.
- Merawat Masjid dan Pusat Ibadah:Menjadi penggerak dalam memakmurkan masjid, yang merupakan basis utama gerakan dakwah.
Melibatkan Seluruh Ekosistem Persyarikatan
Besarnya antusiasme dan kesuksesan Pengajian Ahad Pon tidak lepas dari keterlibatan seluruh ekosistem Persyarikatan. Gerakan ini melibatkan semua unsur, mulai dari:
- Kader dan Simpatisan:Baik dari kalangan Muhammadiyah maupun ‘Aisyiyah.
- Amal Usaha Muhammadiyah (AUM):Sebagai penopang dan infrastruktur pendukung kegiatan.
- Organisasi Otonom (Ortom):Sebagai pelaksana teknis dan regenerasi gerakan.
Konsistensi dalam menjalankan kegiatan ini selama bertahun-tahun membuktikan sebuah fakta penting: Muhammadiyah, yang telah berdiri lebih dari satu abad, adalah organisasi yang berkemajuan dan berakar kuat hingga tingkat Ranting. Hal ini menunjukkan bahwa ideologi gerakan tidak hanya berhenti di tingkat Pimpinan Pusat, tetapi memCabang Muhammadiyah di pelosok daerah.
- Rasa Syukur dan Antusiasme Warga
Tradisi Bergiliran, Semangat Berjamaah
Rasa syukur yang mendalam patut diucapkan atas antusiasme warga di Cabang Muhammadiyah Kalibening dan Pandanarum yang begitu besar. Kebangkitan gerakan dakwah ini berpuncak pada kegiatan Pengajian Rutin Ahad Pon yang fenomenal, menarik ribuan jamaah dari berbagai pelosok Kalibening dan Pandanarum.
Keberhasilan ini tidak hanya diukur dari kuantitas kehadiran, tetapi juga dari kualitas manajemen pelaksanaannya. Seiring waktu, Pengajian Ahad Pon telah bertransformasi menjadi sebuah tradisi bergiliran dari Ranting ke Ranting. Tradisi ini mencerminkan kearifan lokal dalam mengelola kegiatan besar yang berkelanjutan, sekaligus menguatkan akar organisasi.
Sistem bergiliran Ranting sebagai tuan rumah ini memiliki dampak ganda yang sangat strategis bagi konsolidasi Persyarikatan di tingkat basis:
- Pemerataan Semangat:Sistem ini memastikan bahwa semangat berjamaah dan istigomah (konsisten) dalam berislam terus menyala dan dirasakan di seluruh penjuru Cabang. Setiap Ranting merasakan energi dan tanggung jawab untuk menjadi tuan rumah bagi ribuan muslimin dan muslimat.
- Pemberdayaan Ranting:Ini adalah cara efektif untuk menguatkan peran Ranting Muhammadiyah sebagai ujung tombak gerakan dakwah di tingkat masyarakat terkecil. Menjadi tuan rumah adalah ujian kesiapan Ranting dalam menyambut dan mengelola jamaah dalam jumlah besar, secara otomatis meningkatkan kapasitas kelembagaan mereka.
Dakwah sebagai Tanggung Jawab Kolektif
Tradisi bergiliran Ranting juga menjadi simbol nyata bahwa dakwah adalah tanggung jawab kolektif. Setiap Ranting mendapatkan kesempatan dan kehormatan untuk menjadi tuan rumah. Kehormatan ini secara otomatis meningkatkan gairah dan partisipasi aktif seluruh anggotanya. Mereka bahu-membahu menyiapkan segala kebutuhan, dari lahan parkir, keamanan, hingga logistik konsumsi, menumbuhkan rasa kepemilikan yang kuat terhadap gerakan dakwah.
Kekuatan Finansial dari Umat untuk Umat
Salah satu aspek yang paling menakjubkan dari konsistensi Pengajian Ahad Pon adalah kemandirian pendanaannya yang luar biasa. Seluruh biaya kegiatan ini bersumber dari infak yang terkumpul setiap kali pengajian berketempatan. Hal ini menunjukkan tingginya kepercayaan umat terhadap Muhammadiyah dan semangat berkorban mereka.
Secara finansial, kegiatan ini memerlukan sumber daya yang besar, mencerminkan betapa besarnya skala jamaah yang dilayani:
- Rata-rata infak yang terkumpul mencapai angka 15.000,00 (lima belas juta rupiah)per kegiatan.
- Untuk melayani jamaah 4.000 hingga 5.000 orang, dibutuhkan nasi kotak yang disiapkan. Dengan asumsi biaya per nasi kotak adalah Rp15.000,00, maka total biaya logistik konsumsi mencapai sekitar 75.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah).
- Secara kasar, setiap Pengajian Ahad Pon mengeluarkan biaya sekitar 90.000,00 (sembilan puluh juta rupiah), mencakup infak, logistik, dan operasional lainnya.
Totalitas Pendanaan Dakwah (Mencapai 1 Milyar Rupiah)
Jika dihitung secara total untuk satu tahun, di mana terdapat 11 kali pelaksanaan Pengajian Ahad Pon, maka total biaya operasional yang dikelola oleh Cabang Muhammadiyah Kalibening dan Pandanarum mencapai angka yang fantastis, yaitu kurang lebih Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Angka satu miliar rupiah ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari kolektivitas finansial umat. Dana sebesar itu berhasil dikelola tanpa tergantung pada bantuan pihak luar, melainkan dari keikhlasan infak jamaah. Hal ini membuktikan bahwa gerakan dakwah yang tulus dan konsisten akan selalu mendapatkan dukungan materiil yang dibutuhkan dari umat yang dirawatnya.
Kisah Inspiratif Islam Berkemajuan
Lika-liku perjuangan di Cabang Muhammadiyah Kalibening dan Pandanarum adalah kisah inspiratif tentang bagaimana benih kecil yang ditanam dengan niat tulus dapat tumbuh menjadi pohon rindang yang menaungi ribuan jamaah.
Perjalanan ini adalah cerminan nyata dari gerakan Islam Berkemajuan yang membumi di lapangan. Gerakan ini mengajarkan bahwa kekuatan Muhammadiyah terletak pada konsistensi, kemandirian, dan kemampuan memberdayakan basis Ranting. Inilah warisan yang terus menyala di Bumi Kalibening, menjadikan dakwah sebagai proyek abadi yang dikerjakan dengan gotong royong dan keikhlasan.
- Merawat Jamaah dan Masjid
- Sinergi Kuat di SMA Muhammadiyah 4 Kalibening
Keberlanjutan Pengajian Rutin Ahad Pon bukan hanya dilihat dari jumlah jamaah yang fantastis mencapai ribuan orang tetapi juga dari lokasi pelaksanaannya yang selalu berada di pusat-pusat gerakan Persyarikatan. Hal ini menunjukkan komitmen Muhammadiyah dalam memberdayakan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sebagai basis dakwah.
Salah satu momentum yang menunjukkan sinergi kuat Persyarikatan dan dukungan berbagai pihak adalah saat Pengajian Ahad Pon diselenggarakan di lingkungan SMA Muhammadiyah 4 Kalibening.
Pemilihan lokasi di AUM pendidikan ini menegaskan bahwa sekolah dan madrasah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan umum, tetapi juga sebagai wadah utama pembinaan moral dan spiritual bagi komunitas sekitar. Saat hari Ahad Pon tiba, halaman dan fasilitas SMA Muhammadiyah 4 berubah menjadi lautan jamaah, menandai integrasi sempurna antara pendidikan, dakwah, dan masyarakat.
Pengajian ini bertindak sebagai mekanisme Merawat Jamaah dan Masjid. "Merawat Jamaah" berarti memastikan bahwa umat mendapatkan asupan rohani dan ilmu yang konsisten sesuai tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sementara "Merawat Masjid" berarti memakmurkan masjid dan pusat kegiatan ibadah, menjadikannya sentra peradaban Islam yang berkemajuan.
- Keterlibatan Tokoh dan Organisasi (Sinergi Multi-Pihak)
Agenda Bersama yang Dihadiri Multi-Pihak
Pengajian Ahad Pon telah bertransformasi dari sekadar acara rutin menjadi agenda bersama yang menandai soliditas dan penerimaan Muhammadiyah di tingkat lokal maupun regional. Acara ini secara masif dihadiri oleh berbagai elemen, yang menunjukkan luasnya jangkauan dan dampak gerakan ini.
- Keterlibatan Pimpinan Persyarikatan
Acara ini selalu mendapatkan perhatian dan dukungan penuh dari struktur pimpinan Muhammadiyah dari berbagai tingkatan, menegaskan bahwa gerakan ini berada dalam garis komando organisasi. Pihak yang terlibat meliputi:
- Ketua LPCRPM PP Muhammadiyah (Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid):Kehadiran beliau memberikan semangat dan arahan langsung dari Pimpinan Pusat, sekaligus menegaskan pentingnya konsolidasi Ranting sebagai basis kekuatan.
- Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banjarnegara:Sebagai penanggung jawab wilayah, PDM memberikan bimbingan dan dukungan administratif.
- PCM dan PCA Kalibening-Pandanarum:Sebagai pelaksana utama di tingkat Cabang, mereka adalah garda terdepan yang merancang dan menyukseskan acara.
- Keterlibatan Pemerintah dan Legislatif
Pengajian Ahad Pon juga menjadi forum silaturahmi yang efektif dengan pemerintah dan perwakilan rakyat, menunjukkan bahwa Muhammadiyah adalah mitra strategis pembangunan dan memiliki hubungan baik dengan semua pihak. Yang turut hadir mencakup:
- Camat Kalibening dan Kapolsek Kalibening:Menunjukkan dukungan pemerintah daerah dan jaminan keamanan selama acara berlangsung.
- Anggota Dewan Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Banjarnegara:Kehadiran wakil rakyat menegaskan bahwa aspirasi dan kebutuhan jamaah Muhammadiyah didengar di tingkat legislatif.
- Peran Organisasi Otonom (Ortom)
Peran Sentral Organisasi Otonom
Di balik kesuksesan dan kelancaran acara yang melibatkan ribuan jamaah, terdapat kerja keras dan sinergi yang luar biasa dari seluruh Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah. Ortom bukan sekadar pelengkap, melainkan pelaksana utama yang bertindak sebagai petugas unggul yang menggerakkan seluruh rangkaian kegiatan.
Keterlibatan seluruh Ortom mencerminkan kaderisasi yang berjalan baik. Para pemuda dan pelajar Muhammadiyah dilatih untuk menjadi motor penggerak dakwah, mulai dari pengaturan parkir, konsumsi, penertiban jamaah, hingga dokumentasi.
Ortom yang terlibat dan memiliki peran sentral dalam kepanitiaan antara lain:
- ‘Aisyiyah dan Nasyiatul ‘Aisyiyah:Bertanggung jawab atas logistik, konsumsi, dan pengaturan jamaah perempuan.
- Pemuda Muhammadiyah:Memimpin tugas pengamanan, parkir, dan koordinator lapangan.
- Ikatan Pelajar Muhammadiyah dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah:Mengurus kesekretariatan, dokumentasi, dan membantu penerimaan tamu.
- Tapak Suci Putra Muhammadiyah dan Hizbul Wathan:Bertindak sebagai tim keamanan, penertiban, dan pemandu lapangan yang disiplin.
Sinergi antara Pimpinan Persyarikatan (sebagai pengarah), AUM (sebagai penyedia fasilitas), dan Ortom (sebagai pelaksana) ini adalah model ideal dakwah Muhammadiyah. Mereka bekerja bahu-membahu untuk satu tujuan: menjaga konsistensi Pengajian Ahad Pon demi merawat jamaah, memakmurkan masjid, dan menegakkan Islam yang berkemajuan di Cabang Muhammadiyah Kalibening dan Pandanarum.
- Masjid, Makmur dan Memakmurkan
- Dua Pilar Gerakan: Jamaah dan Masjid
Masjid, Makmur dan Memakmurkan
Dalam gerakan dakwah Muhammadiyah di Kalibening, masjid memegang peran yang sangat sentral. Filosofi yang ditekankan adalah pentingnya merawat jamaah dan merawat masjid. Dua hal ini adalah pilar utama yang mencerminkan bahwa gerakan Persyarikatan tidak hanya berorientasi pada aspek ritual semata (habluminallah), tetapi juga memiliki dimensi sosial dan pemakmuran aset umat (habluminannas).
Merawat Jamaah berarti konsisten memberikan pengajaran yang benar, pembinaan moral, serta penyediaan fasilitas dan layanan yang dibutuhkan umat, sebagaimana yang diwujudkan dalam Pengajian Rutin Ahad Pon. Jamaah adalah subjek dan objek dakwah yang harus dijaga spiritualitas dan kesejahteraannya.
Memakmurkan Masjid memiliki arti ganda. Pertama, memastikan masjid selalu ramai dengan ibadah mahdhah (salat, zikir, tadarus). Kedua, menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat, mulai dari pendidikan, diskusi sosial, hingga penggalangan dana untuk kepentingan umum. Dengan demikian, masjid berfungsi sebagai sentra peradaban, bukan sekadar tempat salat. Ketika masjid dimakmurkan oleh umat, maka secara otomatis masjid akan memakmurkan kembali umat melalui layanan dan fasilitasnya.
- Apresiasi PDM dan Pentingnya Konsolidasi Ranting
Apresiasi dari PDM Banjarnegara
Penguatan di tingkat Ranting dan Cabang Muhammadiyah Kalibening-Pandanarum mendapatkan apresiasi yang tinggi dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banjarnegara. Dalam salah satu kesempatan pengajian, Ketua PDM Banjarnegara, Ustadz Widyasrama, S.Pd., menyampaikan ucapan selamat dan semangat.
Dalam sambutannya, Ustadz Widyasrama secara khusus memberikan apresiasi atas perolehan prestasi yang diraih oleh Tapak Suci Putra Muhammadiyah Cabang Kalibening. Prestasi dalam cabang seni bela diri ini menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak dalam dakwah spiritual dan pendidikan formal, tetapi juga aktif dalam pembinaan karakter, fisik, dan soft skill bagi kader muda. Keberhasilan ini menjadi kebanggaan dan bukti nyata pembinaan yang terintegrasi.
Ranting Penting, Cabang Harus Maju
Lebih lanjut, Ketua PDM Banjarnegara menegaskan sebuah prinsip organisatoris yang fundamental:
"Ranting itu Penting, dan Cabang itu harus Berkembang dan Maju."
Pernyataan ini bukan hanya slogan, tetapi penekanan strategis. Ranting (tingkat desa/kelurahan) adalah ujung tombak dan basis kekuatan utama Persyarikatan, tempat di mana kontak langsung dengan masyarakat terjadi. Tanpa Ranting yang kuat, akar gerakan dakwah akan rapuh.
Sementara itu, Cabang (tingkat kecamatan) memiliki tugas untuk mengoordinasikan Ranting-Ranting, mengembangkan Amal Usaha, dan menyusun program yang berkembang dan maju. Artinya, Cabang harus menjadi dinamisator yang memastikan kegiatan dakwah terus inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
- Masa Depan Gerakan yang Berakar Kuat
Menciptakan Ekosistem yang Berdaya
Sinergi antara kegiatan pengajian rutin, prestasi Ortom seperti Tapak Suci, dan penegasan pentingnya Ranting oleh PDM Banjarnegara, menciptakan sebuah ekosistem yang berdaya. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan Muhammadiyah di Kalibening-Pandanarum berada pada jalur yang benar, yaitu:
- Konsistensi Dakwah:Dijamin oleh program rutin Ahad Pon.
- Kaderisasi Berkualitas:Dibuktikan oleh prestasi Ortom.
- Konsolidasi Organisasi:Dijaga melalui penguatan Ranting dan pengembangan Cabang.
Dengan berpegang teguh pada prinsip Masjid, Makmur dan Memakmurkan, dan didukung oleh struktur organisasi yang sehat, Muhammadiyah di Cabang Muhammadiyah Kalibening dipastikan akan terus menjadi organisasi yang berakar kuat di tingkat masyarakat, sekaligus menjadi pelopor dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
- Masjid sebagai Benteng Moral dan Konsolidasi Basis
- Peran Masjid di Era Kontemporer
Masjid sebagai Benteng Moral
Dalam pusaran arus modernisasi dan tantangan moral yang kian kompleks, fungsi masjid sebagai pusat ibadah harus diperluas. Di Kalibening, masjid diposisikan tidak hanya sebagai tempat salat, tetapi sebagai benteng moral yang mengawal akidah dan perilaku umat.
Benteng moral ini diwujudkan melalui kajian-kajian rutin, seperti Pengajian Ahad Pon, yang secara sistematis memberikan pencerahan kepada jamaah. Kajian yang disampaikan berorientasi pada peningkatan iman, akhlak, dan kesadaran sosial. Melalui masjid, nilai-nilai kejujuran, disiplin, kerja keras, dan kepedulian sosial ditanamkan dan dijaga.
Dengan menjadi benteng moral, masjid memastikan bahwa jamaah Muhammadiyah tidak tergerus oleh paham-paham menyimpang atau gaya hidup yang bertentangan dengan prinsip Islam. Masjid menjadi tempat kembali untuk membersihkan hati dan menguatkan komitmen pada kebaikan.
- Dukungan Pimpinan Pusat: Konsolidasi di Tingkat Basis
Kehadiran Tokoh Kunci: Ustadz Drs. HM. Jamaludin Ahmad, S.Psi.
Salah satu faktor yang mengangkat marwah dan semangat Pengajian Ahad Pon di Kalibening adalah kehadiran dan dukungan langsung dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.
Pemateri utama yang secara rutin mengisi pengajian ini adalah Ustadz Drs. HM. Jamaludin Ahmad, S.Psi. Beliau adalah sosok sentral karena menjabat sebagai Ketua LPCRPM (Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid) PP Muhammadiyah.
Kehadiran beliau untuk kali ini bukanlah yang pertama, melainkan sudah tercatat sebagai kali keempat. Frekuensi kehadiran tokoh sekaliber Ketua LPCRPM PP Muhammadiyah ini memiliki makna yang sangat mendalam:
- Perhatian Besar PP Muhammadiyah:Ini menunjukkan adanya perhatian dan dukungan yang sangat besar dari Pimpinan Pusat terhadap konsolidasi gerakan di tingkat basis (Ranting dan Cabang).
- Penegasan Strategi:Kehadiran beliau menegaskan bahwa penguatan masjid dan pengembangan Ranting adalah prioritas utama Muhammadiyah dalam mewujudkan Islam Berkemajuan.
- Penguatan Moril Kader:Kehadiran tokoh nasional ini menjadi suntikan motivasi dan penguat moril yang luar biasa bagi kader-kader di Kalibening dan Pandanarum, yang merasa bahwa perjuangan mereka di daerah terpencil pun mendapatkan apresiasi dan pantauan langsung dari pusat.
- Sinkronisasi Gerakan dari Pusat ke Ranting
Sinkronisasi Gerakan Dakwah
Ustadz Drs. HM. Jamaludin Ahmad, sebagai ahli dalam pengembangan Ranting dan Pembinaan Masjid, membawa visi dan misi PP Muhammadiyah langsung ke hadapan ribuan jamaah di Kalibening. Materi yang beliau sampaikan selalu menekankan pentingnya peran Ranting sebagai ujung tombak dan bagaimana masjid harus diberdayakan semaksimal mungkin.
Keterlibatan beliau memastikan adanya sinkronisasi (keselarasan) antara program kerja Pimpinan Pusat dengan implementasi di tingkat Ranting. Ini penting agar gerakan dakwah di Kalibening tidak berjalan sendiri, melainkan terintegrasi dalam skema besar Persyarikatan secara nasional.
Dalam konteks Masjid sebagai Benteng Moral, kehadiran Ketua LPCRPM ini juga memperkuat pemahaman bahwa masjid harus dikelola secara profesional dan modern, baik dari sisi fisik, administrasi, maupun konten kajiannya. Dengan dukungan dan bimbingan dari pusat, Muhammadiyah Kalibening semakin mantap menjalankan perannya sebagai penggerak dakwah dan penopang moral umat di wilayah Banjarnegara.
- Seruan Memakmurkan Masjid
Dalam tausiyahnya, Ustadz Jamaludin Ahmad mengawali dengan pengajian Subuh di Masjid Baitul Kiblat Kalibening. Poin-poin penting yang disampaikannya adalah:
- Masjid sebagai Benteng Moral: Masjid harus menjadi pusat pembinaan moral masyarakat.
- Mengajak Anak ke Masjid: Mengimbau jamaah untuk selalu mengajak anaknya shalat berjamaah dan tidak melarang anak-anak datang ke masjid agar masjid makmur.
- Peran Pengurus: Pengurus masjid wajib memperhatikan kondisi dan kebaikan jamaah, serta memberdayakan para pemuda untuk ikut ambil peran memakmurkan masjid.
- Syukur dan Amal Saleh: Rakyat akan makmur jika bersyukur. Ia mengajak jamaah untuk memaksakan diri dalam berbuat amal saleh, sebab keikhlasan bisa terbentuk karena dipaksa, dan salah satu amal saleh adalah memakmurkan masjid.
- Dukungan Pimpinan Daerah dan Gerakan Baru
Membangun Ranting dan DapurMu
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banjarnegara turut memberikan dukungan dan motivasi yang berorientasi pada pengembangan organisasi dan kesejahteraan umat.
Penguatan Ranting sebagai Basis
Ketua PDM Banjarnegara, Widyasrama, S.Pd., dalam berbagai kesempatan pengajian, selalu menekankan pentingnya pengembangan ranting. Beliau berharap agar ranting diberdayakan lebih lanjut sehingga di tahun yang akan datang dapat berdiri ranting-ranting baru di Cabang Kalibening maupun Pandanarum.
"Ranting itu Penting dan Cabang itu harus Berkembang dan Maju."
Peluncuran "Dapur Muhammadiyah" (DapurMu)
Ustadz H. Wahyudin, S.Ag., M.Si., dari PDM Banjarnegara, menyampaikan kabar baik mengenai pembangunan enam "Dapur Muhammadiyah" (DapurMu) yang berlokasi di: MBS Wanayasa, Pandanarum, Susukan, Merden, Pingit, dan Pusdamu.
- Filosofi Perjuangan: Proyek ini menggambarkan mentalitas Muhammadiyah untuk terus berkarya meskipun menghadapi tantangan finansial. Beliau mengutip: "Ora duwe duit ngenyang lemah. Ora duwe duit bangun gedung dakwah,".
- Skema Investasi: Warga Muhammadiyah diajak untuk berinvestasi dan berpartisipasi aktif dalam proyek ini dengan skema bagi hasil.
- Target Launching: DapurMudirencanakan diluncurkan pada 1 Oktober 2025.
Ustadz Wahyudin juga menyebutkan proyek besar lain, yaitu pembangunan rumah sakit di Banjarnegara dengan anggaran Rp34 miliar, yang juga dimulai dengan utang.
- Peran AUM dan Kolaborasi Institusi
Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) dan institusi pendidikan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTM-A) memainkan peran penting dalam kegiatan Ahad Pon, baik sebagai penyedia lokasi, pendukung dana, maupun penyalur program.
Tawaran Beasiswa dari UMP
Prof. Ahmad Darmawan, S.E., M.S., Ph.D., Wakil Rektor 4 Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), menunjukkan sinergi antara Persyarikatan dan AUM Pendidikan. UMP mengapresiasi dukungan warga Kalibening yang telah menerima mahasiswa KKN di 10 desa.
Untuk mendukung pengembangan kader, UMP menawarkan dua jenis beasiswa bagi putra-putri terbaik Kalibening:
- Beasiswa Kader: Potongan biaya kuliah sebesar 50%.
- Beasiswa KIP: Beasiswa penuh 100% dari pemerintah, disertai biaya hidup 000 per bulan.
Kisah UMP yang tertib dalam pengelolaan aset (ditahan oleh Prof. Haedar Nashir) menjadi pengingat bahwa semua aset adalah milik organisasi dan dikelola secara disiplin.
Dukungan AUM Lokal
Pengajian Ahad Pon selalu didukung penuh oleh AUM-AUM di wilayah Kalibening-Pandanarum, menunjukkan kontribusi nyata mereka dalam dakwah:
- Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Kalibening
- KSPPS BTM Banjarnegara
- MTs Muhammadiyah 01 Kalibening
- SMA Muhammadiyah 04 Banjarnegara
- MBS Cabang Muhammadiyah Syahaadat Kalibening
- Tausiyah Berkemajuan
Etos Kerja Islami dan Niat yang Lurus
Ceramah oleh Ustadz Dr. H. Ali Trigiatno, M.Ag., memberikan motivasi yang kuat mengenai etos kerja Islami yang selaras dengan semangat berkemajuan Muhammadiyah.
Tiga Jenis Manusia
Ustadz Dr. H. Ali Trigiatno, M.Ag membagi manusia menjadi tiga jenis dalam konteks kemajuan:
- Tidak maju-maju: Tidak bergerak meskipun diajak maju.
- Maju dan berkemajuan: Terus bergerak maju, progresif, dan sesuai ajaran Islam (ciri khas Muhammadiyah).
- Maju dan kemajon: Maju terlalu jauh, melampaui batas, dan jatuh ke dalam liberalisme.
Ciri orang berkemajuan adalah keinginan untuk menjadi lebih baik dari hari ini.
Harta Lebih Utama dari Tenaga
Mengacu pada konsistensi ayat Al-Qur'an, Ustadz Dr. H. Ali Trigiatno, M.Ag mematahkan mitos bahwa kekayaan adalah penghalang pahala. Beliau menekankan bahwa dalam beramal, harta (amwal) lebih utama dari tenaga (anfus) dan selalu didahulukan dalam perintah berjuang di jalan Allah.
"Mencari orang yang siap mati lebih mudah daripada mencari orang yang siap menyumbang."
Pentingnya Niat Lurus
Puncak ceramah adalah tentang niat yang lurus dan berorientasi akhirat.
- Prinsip Otomatis: Ketika seseorang menanamkan niat untuk mencari akhirat, dunia akan mengikutinya secara otomatis. Contohnya, niat menabung untuk zakat, wakaf, dan haji secara otomatis akan mendatangkan kekayaan dunia.
- Koreksi Niat: Beliau mengkritik niat menabung untuk "mempersiapkan diri saat sakit" karena seolah mengundang penyakit. Niat yang benar adalah membantu sesama, yang justru akan mendatangkan kesehatan dan pahala.
- Menguatkan Ukhuwah dalam "Islam Rahmatan Lil 'Alamin"
Pengajian yang digelar di PRM Kalibombong, Desa Kalibombong, mengangkat tema “Islam Rahmatan Lil ’Alamin”, yang menjadi magnet bagi warga non-Muhammadiyah dari desa sekitar.
Tujuh Prinsip Ukhuwah
Pemateri, Ustadz DR. Ibnu Sholeh, MA. M.PI dari Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jawa Tengah, menyoroti tantangan wajah Islam di media sosial yang dipenuhi caci maki dan fitnah, dan menekankan pentingnya ukhuwah (persaudaraan) dalam berdakwah. Beliau memaparkan tujuh prinsip ukhuwah:
- Bersatu dalam aqidah.
- Berjamaah dalam ibadah.
- Tasamuhdalam khilafiyah (toleransi dalam perbedaan).
- Ihsandalam bermujadalah (berbuat baik dalam perdebatan/diskusi).
- Fathanahdalam bersiyasah (cerdas dalam berpolitik).
- Santun dalam bermuamalah.
- Istiqamah dalam berdakwah.
Muhammadiyah Lahir Batin
Ketua PCM H. Hidayanto kembali menegaskan bahwa menjadi anggota Muhammadiyah harus lahir dan batin. Anggota harus bekerja lahir-batin dan mengikuti peraturan Muhammadiyah. Camat Kalibening juga turut menyampaikan agar mindset terhadap Pemilu 2024 diubah dari ajang kontestasi menjadi ajang memperkuat rasa kesatuan dan persatuan bangsa.
- Momen Kebangkitan
Launching Gedung Dakwah dan Kajian Bulan Syuro
Pengajian Ahad Pon di Ranting Kalibening 02, yang dirangkai dengan peletakan batu pertama Gedung Dakwah Muhammadiyah Kalibening, menjadi momen kebangkitan dan semangat baru.
Kajian Ba’da Subuh: Menguatkan Ketakwaan di Bulan Syuro
Rangkaian acara diawali dengan kajian Ba'da Subuh di Masjid Baitul Qiblat oleh Ustadz Mintaraga Eman Surya, Lc., MA, bertema “Meneladani Keteladanan dan Menguatkan Ketakwaan di Bulan Syuro”.
- Bulan Haram: Beliau meluruskan pandangan bahwa Syuro (Muharram) adalah bulan yang dimuliakan (termasuk empat bulan haram), bukan bulan yang menakutkan.
- Puasa Asyura: Menekankan pentingnya Puasa Asyura (10 Muharram) dan Tasu'a (9 Muharram) sebagai bentuk syukur dan pembersih dosa kecil setahun.
- Titik Tolak Hijrah: Mengajak jamaah menjadikan Syuro sebagai bulan awal untuk perubahan diri ke arah yang lebih baik, menjadi pribadi yang lebih jujur, amanah, dan berakhlak mulia.
- Ukhuwah Islamiyah Berkemajuan di Ranting Sidakangen
Pengajian di Ranting Sidakangen pada 22 Desember 2024 mengambil konteks situasi pasca-Pilkada, menunjukkan peran Muhammadiyah dalam merajut kembali persatuan umat.
Merajut Kebersamaan Pasca-Pilkada
Tema ini berfokus pada pentingnya Ukhuwah Islamiyah Berkemajuan sebagai sarana merajut kembali kebersamaan dan persatuan umat Islam. Ustadz Toyib selaku panitia menekankan bahwa pengajian adalah sarana untuk memperkuat ideologi sebagai bagian dari umat Islam yang berkemajuan.
Mitigasi dan Pengelolaan AUM
Ketua PCM Kalibening, H. Hidayanto, juga menyampaikan arahan penting mengenai mitigasi isu-isu dalam pengelolaan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Beliau menekankan perlunya mengidentifikasi, memitigasi, dan mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi AUM, serta mencatat dan mengkaji perkembangan setiap AUM secara cermat.
Meninggalkan Sikap Ego Sentris
Pemateri, Ustadz dr. Sumarno, M.Pd.I, Mudir IMBS Miftahul Ulum Pekajangan Pekalongan, menyerukan perlunya meninggalkan sikap ego sentris antar wilayah. Beliau menyoroti bahwa meskipun umat Islam adalah umat terbesar, mereka masih menghadapi tantangan besar dalam persatuan global.
Tausiyah ditutup dengan refleksi atas dua nikmat besar dari Allah SWT:
- Kenikmatan Keberagaman: Sebagai sumber kekayaan dan kekuatan.
- Nikmat Alam: Sebagai manifestasi kekuasaan Allah yang tak terbatas.
Seluruh rangkaian pengajian Ahad Pon ini menegaskan bahwa kegiatan dakwah di PCM Kalibening dan Pandanarum adalah gerakan konsisten, inklusif, dan berkemajuan, yang terus menerus memperkuat ukhuwah, menggerakkan kebaikan, dan merawat masjid sebagai benteng moral dan pusat peradaban umat.
- Mengembangkan Ilmu, Merangkai Kenangan
- Magang Dakwah, Pengalaman Berharga
Pengalaman Mengisi Kajian dan Tantangannya
Setiap langkah dalam menuntut ilmu Islam seyogianya bermuara pada pengabdian kepada masyarakat, atau yang kita kenal sebagai dakwah. Bagi saya, Mister Kismadi, pengalaman mengisi pengajian atau kajian setelah menempuh pendidikan di Sekolah Tabligh Muhammadiyah Jawa Tengah, khususnya kelas Banjarnegara, menjadi sebuah fase yang penuh makna dan kenangan tersendiri.
Ilmu-ilmu yang didapatkan di bangku sekolah mulai dari ilmu tafsir, hadis, fikih, hingga teknik penyampaian dakwah semuanya diuji di tengah realitas masyarakat. Tidak mudah. Ada kalanya, di sana-sini, kita melihat jamaah yang sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Mengisi pengajian di tengah hiruk pikuk kesibukan masyarakat kontemporer adalah tantangan unik. Hal ini menuntut seorang dai untuk lebih kreatif, relevan, dan mampu menyampaikan materi dengan cara yang mudah dicerna dan menyentuh hati.
Mister Kismadi: Alumni Sekolah Tabligh
Saya berdiri di hadapan jamaah, bukan hanya sebagai penceramah, tetapi sebagai perwujudan hasil didikan Majelis Tabligh Muhammadiyah. Sekolah Tabligh Muhammadiyah Jawa Tengah, melalui kelas Banjarnegara, telah membekali kami dengan kerangka berpikir Islam Berkemajuan yang kuat.
Program magang dakwah yang saya jalani menjadi jembatan krusial antara teori di kelas dengan praktik di lapangan. Di sinilah saya belajar bahwa keberhasilan dakwah bukan hanya terletak pada kedalaman ilmu yang dimiliki, tetapi juga pada kemampuan berkomunikasi dan empati terhadap kondisi jamaah.
- Implementasi Ilmu dan Manfaat bagi Masyarakat
Ilmu yang Didapat, Manfaat yang Diraih
Alhamdulillah, melalui proses pendidikan dan magang dakwah ini, saya menyadari bahwa ilmu yang didapat di Sekolah Tabligh Muhammadiyah sungguh bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya. Ilmu tersebut tidak hanya berhenti sebagai pengetahuan pribadi, tetapi menjadi alat untuk:
- Meluruskan Pemahaman:Menyampaikan ajaran Islam yang murni, terhindar dari takhayul, bidah, dan khurafat (TBC), sesuai dengan Manhaj Tarjih Muhammadiyah.
- Mendorong Amal Saleh:Mengajak masyarakat untuk aktif dalam kebaikan sosial, pendidikan, dan ekonomi, sejalan dengan semangat al-Ma'un.
- Menguatkan Ukhuwah:Menjadi perekat persaudaraan, baik di dalam internal Persyarikatan maupun dengan umat Islam lainnya.
Pengalaman mengisi kajian ini memberikan konfirmasi nyata bahwa apa yang kami pelajari di sekolah seperti metodologi dakwah bil hal (dengan perbuatan) dan bil lisan (dengan ucapan) sangat aplikatif. Ketika dihadapkan pada jamaah yang beragam latar belakang dan tingkat pemahaman, kami dituntut untuk fleksibel, tanpa kehilangan prinsip dasar ajaran Islam.
Kenangan Magang yang Mengukir Hikmah
Magang dakwah ini bukan sekadar tugas wajib, tetapi sebuah pengalaman yang berharga. Ia adalah proses penempaan diri yang mengukir kenangan manis dan hikmah mendalam. Kenangan saat berhasil menjawab pertanyaan jamaah yang sulit, saat melihat wajah jamaah tercerahkan oleh pemahaman baru, atau bahkan saat harus menyesuaikan materi karena kendala waktu atau cuaca. Semua itu membentuk karakter seorang mubaligh (pendakwah) yang matang dan bertanggung jawab.
- Penutup dan Harapan Masa Depan
Menjadi Mata Rantai Dakwah Berkemajuan
Sebagai Mister Kismadi, seorang mahasiswa Sekolah Tabligh Muhammadiyah, saya merasa bangga dapat menjadi bagian dari mata rantai dakwah yang telah dirintis oleh para pendahulu Muhammadiyah di Banjarnegara.
Harapan saya, pengalaman ini dapat menjadi motivasi bagi kader-kader muda lainnya di Sekolah Tabligh. Bahwa kesibukan pribadi bukanlah penghalang, melainkan tantangan yang harus diatasi dengan manajemen waktu dan niat yang lurus. Kehadiran kami di tengah masyarakat, sekecil apa pun sumbangsihnya, adalah bentuk pengejawantahan dari visi Muhammadiyah:
"Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya."
Ilmu yang kami dapat adalah amanah. Dan amanah tersebut telah terbukti berguna bagi masyarakat pada umumnya, mengantarkan mereka menuju pemahaman Islam yang moderat, toleran, dan berkemajuan.
Penulis : Mister Kismadi, SE (MPI Cabang Kalibening)
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
AMM Banjarnegara Bedah Rahasia Keluarga Berkah dalam Pengajian Akbar Jilid 3
BANJARNEGARA, 25 Januari 2026. Atmosfer penuh semangat dan kehangatan menyelimuti kawasan Kalibening saat ratusan kader Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) se-Kabupaten Banjarnegara berkum
Pengajian Rutin Ahad Pon Karanggondang, Kalibening, Semarakkan Dakwah dan Galang Dana Pembangunan Masjid
KARANGGONDANG, KALIBENING - Ratusan jamaah memadati acara pengajian rutin Ahad Pon yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah di Ranting Muhammadiyah Kalibening 03 bersama m
Analisis Mendalam Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) PCM Kalibening
PCM Kalibening telah menunjukkan peran sentral dalam menegakkan misi Muhammadiyah, yaitu Menegakkan dan Menjunjung Tinggi Ajaran Islam, yang diwujudkan melalui serangkaian Amal Usaha Mu
‘Aisyiyah Kalibening Gelar Diskusi Kebijakan, Sambut Hangat Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah
Kalibening, Banjarnegara – Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kalibening, Banjarnegara, sukses menggelar acara komunikasi aspirasi bertema “Peningkatan Kualitas Kebijakan
Dukungan Penuh untuk Empat PCM Unggulan Banyumas Raya di Seleksi Nominasi CRM Award VI
Banjarnegara, Sabtu (11/10/2025) – Gelombang dukungan dan doa bagi empat Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) unggulan dari eks Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, yang besok hari, A
